Selasa, 23 Oktober 2012

Perspektif Kognitif: 1. Pemrosesan Informasi


Review Jurnal

Judul                          :
Nama Penulis             : I Made Ardana
Instansi                      : Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Undiksha

Tujuan utama penelitian ini adalah mengembangkan suatu pembelajaran  matematika yang berorientasi gaya kognitif dan berwawasan konstruktivis yang mampu meningkatkan kualitas belajar siswa. Data penelitian terdiri dari data tentang gaya kognitif yang dimiliki siswa, data tentang validitas, kepraktisan, dan keefektifan pembelajaran dan perangkatnya, data aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran, prestasi belajar siswa, dan data tentang tanggapan siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: lembar validasi, tes, observasi, wawancara, kuesioner, dan catatan harian yang kemudian dianalisis secara deskriftif. Hasil analisis ini selanjutnya dibandingkan dengan kriteria yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperolehnya pembelajaran matematika yang berorientasi gaya kognitif dan berwawasan konstruktivis yang valid, praktis, dan efektif. Dengan kata lain pembelajaran matematika yang dihasilkan dapat meningkatkan kualitas belajar siswa.

Pembahasan    :

            Sesuai dengan jurnal penelitian di atas bahwa Pembelajaran yang dilaksanakan menggunakan paradigma student oriented artinya siswa sebagai pusat pembelajaran; siswa dibelajarkan sesuai dengan gaya kognitif yang dimiliki; dan pembelajaran yang dilakukan efektif yakni aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran tergolong tinggi, prestasi belajar siswa tergolong baik (daya serap minimal 65% dan ketuntasan belajar minimal 85%) dan siswa memiliki tanggpan positif terhadap pembelajaran yang dilakukan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kualitas pembelajaran yang dilakukan telah meningkat.
           
Pemanfaatan gaya kognitif dapat berdampak pada meningkatnya konsep diri akademis siswa yakni keyakinan siswa terhadap kemampuan akademisnya. Siswa yang memiliki keyakinan terhadap kemampuan akademis yang baik membawa dampak positif terhadap prestasi belajar siswa. Sehubungan dengan itu, hasil penelitian Mars (1985: 15) mengatakan bahwa “ada korelasi positif antara konsep diri akademis dengan prestasi belajar”. Lebih lanjut dikatakan bahwa korelasi tertinggi terjadi antara konsep diri akademis matematika dengan prestasi belajar matematika.

Pembelajaran ini dapat berlangsung dengan baik karena guru mampu menyesuaikan diri dengan gaya kognitif yang dimiliki siswa baik dengan siswa field-independent maupun siswa field-dependent. Dalam hal ini guru yang field-independent dapat membantu kebutuhan siswa field-dependent melalui menggali/membangun pengalaman belajar siswa, memberikan ganjaran/penguatan, dan mengembangkan hubungan personal yang positif. Sedangkan guru yang field-dependent perlu membiasakan diri untuk tidak terlibat secara langsung, harus tanggap terhadap keperluan siswa, dan perlu menjaga jarak demi kenyamanan mereka. Penyesuaian diri dari seorang guru terhadap gaya kognitif siswa dalam kerja kooperatif memudahkan siswa memahami konsep-konsep yang dibelajarkan sehingga mengakibatkan terjadi peningkatan kategori kemampuan baik pada siswa field-independent maupun pada siswa field-dependent. Di samping itu pembelajaran yang dilakukan telah memperhatikan prakonsepsi siswa sehingga siswa siap menerima pelajaran terkait dengan konsep yang sedang dibelajarkan. Dengan kesiapan belajar siswa menghasilkan prestasi belajar yang optimal. Sehubungan dengan itu Tabrani Rusyan (1989) menyatakan hasil yang baik akan dicapai dalam belajar bila ada kesiapan belajar. Dengan memberikan siswa kesempatan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan memberikan solusi dalam meningkatkan kualitas hasil belajar. Sehubungan dengan itu Kneller (1971) mengemukakan “jika pendekatan dilakukan secara tepat maka segala permasalahan dapat dipecahkan”. Pada pelaksanaan pembelajaran ini guru memposisikan diri sebagai fasilitator dan memperhatikan serta mencatat bagian mana yang perlu diberi penjelasan dan komentar.

 metode ini secara tidak langsung mengidentifikasikan bahwa adanya prinsip pembelajar dimana teori pemrosesan informasi membahas langkah-langkah dasar yang diambil individu untuk memperoleh, menyandikan dan mengingat informasi. Teori ini juga berbeda dengan teori proses pembelajaran yang lainnya seperti pengkondisian berpenguatan Skinner. Pemrosesan informasi ini merupakan proses psikologis yang merupakan sesuatu yang abstrak dan tersembunyi, informasi akan mulai bekerja setelah adanya input informasi dari lingkungan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar