Kamis, 07 April 2011

FENOMENA PENDIDIKAN




FENOMENA PERTAMA



Kualitas pendidikan tidak bisa hanya diselenggarakan oleh pemerintah saja,tetapi menuntut partisipasi semua pihak untuk mengadakan dan mendayagunakan sumber daya pendidikan yang tersedia dalam lingkungan keluarga,sekolah,dan masyarakat demi terciptanya suasana pendidikan edukatif yang mendukung terwujudnya pendidikan nasional.Tugas pendidikan merupakan upaya pengembangan SDM agar peserta didik memiliki kemampuan aktualisasi diri.Yang dimaksud dengan tri pusat pendidikan itu adalah tempat melakukan pendewasaan diri,yaitu; pusat keluarga,pusat perguruan sekolah,dan pusat pergerakan pemuda/masyarakat.
Pusat keluarga,pendidikan yang pertama dan yang terpenting.Sebelum seorang anak berkenalan dengan lingkungan social yang lebih luas maka anak itu terlebih dahulu dengan keluarga khususnya ibu.Keluarga banyak mewarnai kehidupan anak.Akan menjadi anak baik ataukah sebaliknya,sebagian besar merupakan refleksi dari pendidikan yang didapatkan dari keluarga.Ibu sebagai orang yang melahirkan anaknya harus dapat menjadi pendidik utama sedangkan keluarga dapat menjadi pelindung bagi anak-anaknya baik secara fisik maupun mental.Disamping itu peran ibu dalam pusat keluarga harus dapat memantapkan bahwa keluarga sebagai lingkungan pendidikan yang memberikan keyakinan agama,nilai budaya,yang mencakup nilai moral dan aturan-aturan pergaulan serta pandangan,ketrampilan dan sikap hidup yang mendukung kehidupan bermasyarakat,berbangsa,dan bernegara.

sumber ;   jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/Ed19Jan09160170.pdf

Pembahasan:

Teori pendidikan keluarga
Masaru Ibuka (1980) dalam tulisannya mengenai pendidikan anak mengatakan bahwa anak hendaknya mulai “dididik” sejak lahir.Menurut Ibuka,pendidikan sangat dini ini tidak akan menjadikan anak normal menjadi jenius,tetapi dapat membuat anak lebih sehat jasmaninya,lebih bermental fleksibel,lebih cerdas dan lebih “berbudaya”.
Ibuka selanjutnya memberikan peringatan kepada ibu-ibu bahwa:
  • Menelantarkan anak lebih berbahaya daripada memanjakan 
  • Kebiasaan orangtua yang pencemas bisa menular pada anaknya
  • Ayahnya hendaknya sering berkomunikasi dengan anak-anaknya
  • Kemarahan dan kerewelan seorang anak kecil adalah pernyataan frustasi         
Teori pendidikan bimbingan sekolah
Sekolah merupakan titik pusat dari tri pusat pendidikan,yakni menjadi perantara antara keluarga dan anak dalam masyarakat.Dalam hal ini keluarga.Pendidikan dari sekolah akan membantu seorang anak bukan hanya mengerti teori dari mata pelajaran yang diajarkan, namun yang terpenting yaitu cara belajar yang terstruktur dan baik. Dengan pendidikan yang baik, maka masa depan seorang anak akan lebih terencana dan terjamin.


 Teori psikologi pendidikan 
Masyarakat sebagai pusat pendidikan anak dimaksudkan dalam dimensi sempit,yakni organisasi-organisasi pemuda yang tergabung bersamanya kelompok teman sebaya (peer-group) dan memkiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan anak.Anak-anak bahkan berani eninggalkan norma-norma susila yang berlaku didalma keluarga demi kelompoknya.Bahkan dapat menemukan jati dirinya melalui kelompok teman sebaya.


FENOMENA KEDUA


Anak-anak yang membolos dari sekolah pada jam pelajaran tampaknya tak asing lagi. Seperti terlihat di sebuah warung internet (warnet) penuh dengan anak-anak usia sekolah dasar (SD) dan menengah pertama (SMP). Sebagian anak melepaskan seragam sekolah mereka, tampak asyik bermain game online.Bermain game di komputer dengan waktu yang lama mengakibatkan anak menjadi pribadi yang tidak peduli dengan lingkungan. Hal tersebut disampaikan oleh sekretaris jenderal Yayasan Cinta Anak Bangsa, Iskandar Hukom. "Anak-anak terpaku pada layar monitor, kehidupan sosial mereka terganggu karena mereka sibuk dengan permainan yang ada di komputer," ungkap Iskandar Hukom.Dampak yang timbul akibat kebiasaan anak bermain game di komputer dalam waktu yang lama bukan saja mengganggu aktivitas belajar mereka tapi juga mereka tidak memiliki fighting spirit.

sumber ; http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting/09/01/05/24332-menyikapi-anak-bolos-sekolah

 Pembahasan:

Teori pendidikan keluarga

Dalam keluarga status sosial ekonomi menengah keatas program enrichment dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari tanpa tambahan biaya.Dalam keluarga ini umumnya orang tua cukup mampu menjadi nara sumber bagi perkembangan jasmani,kognisi,persepsi,bahasa,keterampilan sosial,dan minta terhadap sekolah pada anak-anaknya.Kemampuan intelek ,mental,sosial,spiritual orang tua relatif lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang lebih rendah status ekonomi sosialnya,sehingga mereka mampu meningkatkan mutu generasi muda mereka.Jadi perlu perhatian orang tua untuk meghindari hal-hal yang buruk dimungkinkan dari kegiatan membolos.Dalam sistem pendidikan orang tua harus bisa melihat dan memproses kecerdasan masing-masing anak.Kecerdasan anak berbeda,sehingga pendekatannya pun berbeda.

Teori  pendidikan bimbingan sekolah
Anak yang suka membolos adalah anak-anak yang tidak mau pergi sekolah dan membuat rencana untuk melakukan sesuatu yang lain.Bila kegiatan disekolah lebih menarik dari kegiatan diluar sekolah,anak-anak sekolah tidak akan membolos.Anak-anak yang mendapatkan pengalaman pahit disekolah seperti tidak mampu mengikuti pelajaran merasa tidak cocok dengan lingkungan sekolah akan menghindar dari sekolah dengan memilih membolos.Sekali merasakan nikmatnya membolos mereka akan ketagihan dan membuat acara membolos lebih menyenangkan.Mereka yang meremehkan kegunaan sekolah,mereka yang hanya sekolah karena desakan orangtua,mereka yang merasa hari depannya sudah cerah atau sudah terjamin tanpa belajar disekolah,cenderung menganggap remeh pendidikan.Alternatif home schooling merupakan salah satu pilihan agar anak dapat berkembang sesuai kemampuan yang dimiliki dan kegiatan belajar menjadi hal yang menarik.

Teori psikologi pendidikan

Tindakan membolos seperti yang dilakukan oleh siswa-siswa tersebut sudah menjadi sebuah kebiasaan bagi mereka dan hal itu sulit untuk dihilangkan.Selain itu adanya pengaruh ajakan dari lingkungannya.kemudian menurut teori moral Kohlberg, mereka masih berada stadium V orientasi kontak sosial.




FENOMENA KETIGA

Siswa Miskin Masih Tersisih untuk Dapatkan Akses Pendidikan

Pendidikan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia masih menjadi layanan yang mahal. Pasalnya, biaya pendidikan tiap tahunnya semakin melambung. Kemendiknas beralasan siswa yang belum terjangkau pendidikan itu lantaran kendala ekonomi, transportasi, letak geografis yang sulit, lokasi yang sangat terpencil, dan membantu orangtua bekerja.

sumber ; http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/07/26/126748-siswa-miskin-masih-tersisih-untuk-dapatkan-akses-pendidikan

Pembahasan:

Teori pendidikan keluarga

Dalam teori Deprivasi,menurut Martin L.Maehr (1974) ada tiga aspek penting dalam kapasitas intelek yang berkaitan dengan rendahnya prestasi belajar anak-anak yang berasal dari lingkungan yang kurang mampu.Ketiga aspek tersebut ialah bahasa,persepsi,dan kognisi.Dalam perkembangan bahasa Maehr merangkum hasil penelitian menyatakan bahwa dalam lingkungan status sosial ekonomi rendah interaksi verbal orangtua dengan anak lebih sedikit dan lebih rendah mutunya,daripada interaksi verbal anak orangtua dilingkungan sosial ekonomi tinggi.Dalam perkembangan persepsi,asal budaya menentukan dunia yang dipikirkan,dibicarakan,juga yang dilihat,didengar,diraba,dan dicium.Anak-anak miskin cenderung berasal dari lingkungan keluarga yang tidak memupuk diskriminasi persepsi.Dalam perkembangan kognisi,tidak adanya orang dewasa yang dapat dijadikan nara sumber untuk mendapatkan informasi,untuk membetulkan kesalahan-kesalahan,maupun sebagai sarana pendukung.

Teori pendidikan bimbingan sekolah

menurut Goldberg, 1971 rendahnya prestasi belajar anak-anak dari lingkungan serba kekurangan,menurut diagnosis berdasarkan teori-teori psikologi sosial, adalah kurang adekuatnya pengalaman masa dini. lingkungan semacam ini gagal mempersiapkan anak-anak secara sosial motivasional, dan kognitif.

Teori psikologi pendidikan
anak-anak yang miliki kehidupan sosial - ekonomi nya rendah, mereka tidak mendapatkan akses pendidikan karena pihak pemerintah memang belum bisa menjangkau mereka dan dana yang ada pun malah di curangi. Jadi hal ini dikarenakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dan lebih mementingkan ego nya sendiri.

1 komentar: